Cantik Itu Wanita

Sabtu lalu, kami sekeluarga berencana pergi ke Tangerang. “Kangen sama nenek,” kata si kecil Iqna. Maka lima menit sebelum pukul 06.00 pun semua sudah mandi dan berpakaian rapih, kecuali Iqna yang masih sibuk memilih pakaian mana yang akan dikenakannya. Sepuluh menit kemudian, pakaian pilihannya sudah dikenakan, tetapi, “Kok dede nggak pakai kaos dalam?” tanya Umminya.

“Nggak mau” jawabnya singkat.

“Nanti masuk angin kalau nggak pakai kaos dalam”, “Ummi marah deh kalau dede nggak pakai kaos dalam”, “Teteh aja pakai kaos dalam”, “Jelek dede…”, Itu beberapa kalimat yang digunakan isteri saya untuk merajuk Iqna agar mau pakai kaos dalam. Semua rajukan itu hanya mendapat jawaban singkat penuh keteguhan, “nggak mau”.

Bahkan, satu ancaman pun terpaksa terlontarkan, “Kalau dede nggak mau juga, mending nggak usah ikut. Dede dengar ummi ya…”. Sementara yang diancam tetap tidak bergeming dengan pendiriannya. Mungkin ia tahu persis bahwa tidaklah mungkin ditinggalkan. Mungkin juga isteri saya lupa –karena kesalnya- bahwa ancaman tidak akan pernah efektif dipakai dalam berkomunikasi dengan anak-anak. Orang tua mana yang tega sengaja meninggalkan anaknya yang masih balita sendirian di rumah?

Akhirnya, isteri saya pun menyerahkan ‘urusan’ kaos dalam itu kepada saya yang sejak tadi tersenyum memerhatikan celoteh pagi ibu dan anak itu. Kemudian, saya menghampiri Iqna, menggendongnya dan membisikkan sesuatu. Hanya dalam hitungan detik, si dede pun berlari ke kamarnya serta mengambil kaos dalam dan mengenakannya.

Saya berikan senyum ‘kemenangan’ ke arah isteri. Namun ditanggapi ledekan, “Ah, paling-paling dijanjikan beli es krim sama Abi…” jelas ia tak mau kalah begitu saja. “Siapa yang nggak nurut kalau setiap kali harus diiming-imingi jajanan,” tambah si manis.

Sebenarnya, prasangka isteri saya itu tidak benar. Saya tak mengimingi Iqna dengan es krim atau makanan kesukaannya yang lain. Pun tak menjanjikan sejumlah uang hanya untuk meluluhkan hatinya agar mau mengenakan kaos dalam. Sungguh, ini hanya soal komunikasi yang sering dianggap remeh. Kepada siapa berkomunikasi, apa konten komunikasinya dan bagaimana situasi serta waktu saat berkomunikasi.

Faktanya, pagi itu Iqna memang tetap pada pendiriannya tidak mau mengenakan kaos dalam. Saya berbagai rahasia kepada isteri, apa yang saya bisikkan kepada Iqna sehingga ia mau mengenakan kaos dalam. “Abi cuma bilang, Iqna pasti lebih cantik kalau pakai kaos dalam. Coba deh…”.

Muncul rasa penarannya untuk membuktikan, benarkah pernyataan saya bahwa ia akan lebih cantik kalau pakai kaos dalam. Setelah ia kenakan, saya langsung serang ia dengan pujian, “Wah, dede cantik sekali. Tuh benarkan Abi bilang, dede jauh lebih cantik,” ia pun tersipu malu.

Belum sempat ia berkomentar, saya minta dukungan isteri, “Ummi lihat deh, dede lebih cantik kan?” Isteri pun berujar, “Ya jelas donk, itu baru anak Ummi”.

Matanya terus berbinar mendapatkan pujian, senyumnya tak tertahankan. Ya, Iqna akhirnya mau mengenakan kaos dalam hanya karena kami tahu bagaimana berkomunikasi dengannya. Iqna itu wanita, dan wanita itu identik dengan kecantikan. Sentuhlah ia pada hal-hal yang dekat dengan identitasnya. Coba deh … 

Komentar

Postingan Populer