TV: Guru Setia yang Ajarkan Anak Amoral, Borju dan Kekerasan





nonton tvTelevisi tidak bisa dipungkiri, kini boleh jadi telah menjadi pengasuh setia masyarakat. Tak terkecuali anak-anak. Yang jadi masalah, kalau anak-anak menonton tayangan telivisi yang tidak sesuai dengan usianya. Misalnya, tayangan seks dan kekerasan. Anak-anak yang masih rentan daya kritisnya, akan mudah sekali terpengaruh dengan isi dan materi tayangan televisi yang ditontonnya, dan pengaruhnya bisa terbawa sampai mereka dewasa.
Oleh sebab itu para orang tua senantiasa diingatkan untuk menerapkan kontrol yang ketat terhadap kebiasaan menonton tivi bagi anak-anaknya. Karena kalau tidak dimulai dari sekarang, dampaknya sangat membahayakan buat perkembangan jiwa mereka.

Survei membuktikan
Sudah banyak survei-survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tayangan televisi dan pola menontonnya di kalangan anak-anak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los Angeles Times membuktikan, 4 dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan TV yang mengandung unsur kekerasan.

Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah.
Hasil penelitian oleh Dr. Leonard Eron dan Dr. Rowell Huesmann dari University of Michigan menunjukkan, anak yang menghabiskan waktu dengan menonton TV cenderung lebih agresif. Apalagi kalau yang ditontonnya adalah tayangan yang buruk dan penuh dialog kasar. Anak bisa terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Sementara itu, Mary Win dalam bukunya The Plug-In-Drug dan Unplugging The Plug-In-Drug mengungkapkan sejumlah dampak menonton televisi bagi anak-anak. Antara lain bisa menimbulkan ketagihan dan ketergantungan serta pola hidup konsumtif di kalangan anak-anak. Anak-anak akan merasa pantas untuk menuntut apa saja yang ia inginkan, alias anak akan menuntut gaya hidup borju.
Psikolog yang biasa mengasuh rubrik Anda dan Buah Hati di sebuah majalah keluarga, Evi Elvianti pada eramuslim mengungkapkan, dari tayangan TV seorang anak bisa meniru pola-pola perilaku baru yang bisa mereka pelajari. Dan yang memprihatinkan pola-pola perilaku baru itu kebanyakan yang bersifat negatif. Karena buat seorang anak, ketika ia menonton TV, yang ia serap hanyalah bentuk tayangan atau tampilannya saja.
"Karena usia mereka belum mampu untuk menangkap nilai moral apa sebenarnya yang ingin disampaikan dari tayangan tersebut. Biar bagaimanapun, unsur hiburan menjadi alasan utama bagi anak-anak ketika melihat sebuah tayangan tivi," jelas Evi.
Evi sependapat kalau menonton tv bisa menjadi candu bagi anak-anak. Namun Evi lebih menekankan dampak kecanduan ini hanya bagi anak-anak yang tidak punya alternatif kegiatan lain di rumah. Padahal menurut Evi, tidak sulit untuk memberikan kegiatan alternatif pada anak-anak agar tidak mengisi waktu luangnya hanya dengan menonton tivi. Misalnya, setelah satu jam menonton TV, si anak diajak bermain dengan kakaknya, kemudian membantu ibunya.
Terlepas dari baik buruknya tayangan televisi yang ditonton seorang anak, pola menonton tivi yang tidak terkontrol akan menimbulkan dampak psikologis bagi anak-anak.
“Yang pertama, ketrampilan anak jadi kurang berkembang. Usia anak adalah usia dimana si anak sedang mengembangkan segala kemampuannya seperti kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain dan kemampuan mengemukakan pendapat. Dampak lainnya, disadari atau tidak, perilaku-perilaku yang dilihat di TV akan menjadi satu memori dalam diri si anak dan akibatnya si anak menjadi meniru yang bisa berkembang menjadi karakter pribadinya di kemudian hari, kalau tidak segera diantisipasi,” papar Evi.
Jadi jangan heran, kalau orangtua melihat tingkah anaknya yang kasar atau suka mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan, meski orang tua setengah mati meyakinkan bahwa mereka tidak pernah mendidik anaknya seperti itu. Bisa jadi, itu akibat pola menonton tv yang tidak terkontrol.
Psikolog Evi Elvianti mengungkapkan, untuk usia anak-anak sampai 12 tahun, rentang waktu menonton tivi hanya 1 jam saja. Evi juga mengingatkan, anak-anak di bawah usia 2 tahun, sebaiknya jangan dibiasakan menonton televisi.
Dampak pola menonton televisi yang tidak terkontrol sudah terlihat di kalangan anak-anak. Kepala Bagian Kajian Anak dan Media Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia-YKAI Guntarto mengungkapkan, anak- anak sekarang mengalami kesulitan konsentrasi dalam tingkat yang cukup mengkhawatirkan.
“Di kepala anak-anak itu dunianya betul-betul sudah dunia TV. Mereka jadi malas belajar dan malas berkompetisi,” ujarnya.
Untuk sementara ini, karena belum ada regulasi yang jelas soal kriteria tayangan televisi, Guntarto menilai peran orang tua menjadi penting. YKAI juga menyarankan, agar waktu menonton tivi bagi anak-anak tidak lebih dari 2 jam. Untuk itu YKAI pernah menyarankan agar tayangan program anak di televisi untuk pagi hari dimulai dari jam 7 sampai jam 9 pagi, dan untuk sore hari mulai jam 3 sampai maksimal jam 6 sore.
Di Indonesia, menurut penelitian YKAI, anak-anak menghabiskan waktu sampai 35 jam per minggunya untuk menonton televisi. "Artinya rata-rata per harinya anak-anak menonton televisi selama 5 jam. Kalau kebiasaan menonton televisi sudah dibiasakan sejak kecil, kesulitan konsentrasi akan menjadi hal yang menakutkan dan bisa terbawa sampai dewasa. Selain itu juga akan mengurangi pemahaman anak-anak tentang bagaimana meraih kesuksesan. Di TV mereka selalu melihat orang kaya, cantik, sehingga mereka tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya dalam kehidupan nyata mencapai proses seperti itu," papar Guntarto.
Sama seperti Guntarto, Psikolog Evi Elvianti menekankan pentingnya peranan seluruh anggota keluarga untuk mengontrol pola menonton TV bagi anak-anaknya. Caranya, orang tua bisa menetapkan dan mensosialisasikan pada seluruh keluarga termasuk pembantu rumah tangga, tentang aturan main waktu menonton televisi.
"Orang tua juga bisa mengintensifkan komunikasi dengan anak-anaknya di rumah melalui telepon misalnya, dan menanyakan acara tivi apa yang sedang si anak tonton pada saat itu," ujar Evi.

Tayangan Anak-Anak di TV Indonesia
Menjamurnya stasiun-stasiun televisi swasta, TV kabel dan penggunaan parabola di negara kita, tidak pelak lagi membuat makin bebasnya tayangan-tayangan tivi ditonton oleh anak-anak. Khusus untuk TV swasta, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia-YKAI menghitung, sepanjang minggu ke-2 bulan Juli, jumlah program anak-anak dari semua stasiun televisi mencapai 123 program.
Kalau dibagi dalam jam, mencapai 180 jam. Jumlah ini, menurut Kepala Bagian Kajian Anak dan Media YKAI Guntarto, cukup tinggi.
“Dengan jumlah sebanyak ini orang tua apalagi anak-anak, akan mengalami kesulitan untuk memilih program mana yang cocok buat mereka, mana yang baik dan mana yang buruk. Apalagi tidak tersedia informasi yang cukup tentang tayangan-tayangan tersebut, yang bisa menjadi panduan bagi para orang tua,” ungkap Guntarto.
Kalaupun ada informasi tentang tayangan televisi, yang diulas hanya ringkasan ceritanya saja. Bukan ulasan yang bersifat kritis, yang bisa menjadi acuan bagi orang tua untuk memutuskan program tivi itu cocok buat anaknya atau tidak.
“Dari program anak yang jumlahnya ratusan tadi, hanya sekitar 10 persennya saja yang sebenarnya aman buat anak-anak,” tambah Guntarto.
YKAI membagi tayangan anak-anak itu ke dalam katagori aman, biasa-biasa saja, dan katagori yang sebaiknya tidak ditonton. Tayangan yang masuk dalam katagori sebaiknya tidak ditonton, adalah tayangan yang banyak menampaikan adegan kekerasan, sikap anti sosial, intrik dan hal-hal lainnya yang sebenarnya tidak pantas dilihat anak-anak, tapi disajikan sebagai program untuk anak-anak. Contoh tayangan televisi yang menurut YKAI masuk dalam katagori sebaiknya tidak ditonton adalah sejumlah film karton dan tayangan sinetron lokal seperti sinetron Bulan Bintang, Ratu Malu dan Jenderal Kancil dan Si Yoyok.
Lebih dari itu, menurut Guntarto, ada program-program yang tidak diketahui secara pasti apakah program itu untuk anak-anak atau bukan. “Kadang-kadang ceritanya cerita anak-anak, tapi adegan orang dewasanya juga banyak sekali. Belum lagi iklan-iklan disela-sela acara itu, juga banyak yang tidak sesuai untuk anak-anak,” kata Guntarto.
Lebih lanjut Guntarto mengungkapkan, hampir semua televisi swasta memandang film kartun sebagai program untuk anak-anak. Padahal banyak film kartun yang tidak cocok buat anak-anak karena banyak adegan kekerasannya dan alur ceritanya rumit dan susah dipahami anak-anak.
Guntarto juga mengkritisi petunjuk tayangan yang dicantumkan sejumlah stasiun televisi seperti tanda ‘BO’ untuk ‘bimbingan orang tua’ yang dianggapnya tidak efektif. “Simbol-simbol ini juga banyak dipertanyakan orang. Karena program yang menurut kami tidak layak untuk anak-anak, diberi simbol BO, gimana itu, kan gak bener itu,” kata Guntarto.
Menurut Guntarto, yang akan dipakai nantinya adalah standar program siaran dan pedoman perilaku penyiaran yang sedang dibuat Komisi Penyiaran Indonesia-KPI. Standar ini lebih memperhatikan nilai pendidikan dan harapan orang tua terhadap TV. “Kalau standar ini sudah bisa berjalan, pelan-pelan saya optimis isi program tv kita lebih terarah dan bisa memenuhi harapan para orang tua,” tambah Guntarto.
Regulasi menjadi penting mengingat anak-anak sangat rentan dan sensitif dengan hal-hal yang baru. Pengamat media Ade Armando menilai, selama ini memang tidak ada kebijakan yang pro pada pendidikan anak-anak. “Jadi mereka agak asal ya, bahkan sedihnya hal ini juga dilakukan oleh stasiun-stasiun televisi besar,” kata Ade.
Ade tidak menampik besarnya peran orang tua untuk mengontrol pola menonton dan tontonan TV anak-anaknya. Namun Ade juga menekankan perlu adanya peraturan yang keras yang mengatur soal perilaku tayangan anak-anak di televisi.
Buat Ade, tayangan anak-anak di televisi bukan soal buatan dalam negeri atau luar negeri, yang penting kualitasnya bagus dan sehat ditonton anak-anak. “Di negara-negara maju, pemerintahnya membantu dan mensubsidi pembuatan program-program tivi yang sehat. Anggaran belanja negaranya antara lain dialokasikan untuk membiayai program TV yang sehat, meskipun misalnya ratingnya rendah,” ujar Ade.
Ade menyatakan, kepedulian masyarakat kita soal tayangan anak-anak yang sehat di TV cukup besar. Masalahnya, industri dan pemilik modal bisnis pertelevisian lebih kuat, sehingga kepentingan bisnis lebih diutamakan ketimbang idealisme.

Bagaimana TV Swasta Menentukan Program Anak-Anak
Meski TV-TV swasta banyak menampilkan program anak-anak, fakta di lapangan memperlihatkan masih banyak program anak-anak yang kurang sesuai untuk usia anak. Bagaimana sebenarnya pihak TV menentukan suatu program anak layak tayang?
Uki Hastama, Public Relation SCTV mengungkapkan, pihaknya sangat peduli dengan kualitas tayangan anak-anak, apalagi SCTV memposisikan sebagai TV Keluarga, dalam arti individu-individu dalam keluarga maupun keluarga secara keseluruhan.
Untuk tayangan anak-anak, SCTV menetapkan kebijakan terutama yang menyangkut jam tayang dan kebiasaan anak-anak biasa nonton televisi. Misalnya pagi, sebelum mereka berangkat sekolah dan siang hari setelah jam tidur siang anak-anak. Sedangkan untuk hari Minggu, tayangan anak-anak biasanya diputar sampai menjelang tengah hari.
Uki Hastama mengakui, program tayangan anak-anak yang diputar SCTV sebagian besar adalah film impor dan kebanyakan film kartun. Alasan kenapa SCTV lebih memilih film impor karena lebih kepada keterbatasan program lokal.
Untuk menentukan sebuah program anak layak tayang, bagian program sudah memiliki pola berdasarkan riset yang dilakukan, mulai dari jam tayang sampai materi program. “Program anak cenderung mengikuti trend yang sedang disukai anak-anak. Kita mencoba membaca selera anak-anak. Kita juga punya standar dan batasan-batasan, bahwa untuk tayangan anak, kita harus hati-hati,” jelas Uki.
Meski untuk itu, SCTV tidak melibatkan pakar pendidikan atau seorang psikolog misalnya. Yang memberikan penilaian adalah bagian Planning, Shcedulling and Research dan pihak quality control yang berfungsi sebagai badan sensor internal. “Mereka sudah dibekali dengan wawasan dan unsur-unsur yang berbau psikologi,” tambah Uki.
Menurut Uki Hastama, untuk tayangan anak-anak, SCTV menghindari produk-produk Walt Disney, seperti Tom and Jerry dan sejenisnya. Karena tayangan-tayangan itu dari sisi psikologis, secara tidak langsung mengajar anak-anak untuk gampang memukul orang, ujar Uki.
“Kita harus akui anak-anak sekarang itu cenderung lebih modern. Mereka juga suka dengan hal yang nyerempet-nyerempet dewasa,” jelas uki.
Dari sisi komersial, Uki mengakui program anak-anak sangat menguntungkan. Program anak-anak menjadi pasar potensial bagi pengiklan. Uki Hastama tidak menutup mata, banyaknya kritikan yang dilontarkan pada pihak stasiun televisi yang dinilai kurang peduli untuk menayangkan program anak yang bermutu. Menanggapi hal tersebut, Uki Hastama menyatakan, “Kita terbuka dengan kritikan. Tapi kita sebenarnya cukup peduli dan selektif. Sebagai gambaran, daripada kita menayangkan program anak yang menuai protes, menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, mending kita tidak tayangkan. Kita tidak mau mengambil resiko dengan sebuah program yang nanti malah jadi persoalan bagi anak-anak,” tutur Uki menutup pembicaraan dengan eramuslim.

eramuslim

Komentar

Postingan Populer