"Indahnya Persaudaraan.....

Suatu ketika hiduplah dua orang mahasiswa dalam disuatu negara, Amerika. Satu datang dari Kuwait dan satu lagi datang dari Saudi Arabia. Hari-hari mereka selalu berdua, kemana-mana berdua, hampir setiap event yang mereka punya selalu dilalui bersama-sama. Mereka tinggal dalam satu atap rumah, dan kebetulan juga satu universitas. Hari berganti hari, tahun berganti tahun tumbuhlah bibit persaudaraan yang sangat erat diantara mereka berdua. Sampai datang akhir dari perjumpaan mereka, karena masa belajar mereka di Amerika sudah selesai.

Akhirnya datanglah hari dimana mereka harus berpisah ke negara mereka masing-masing. Sebelum kepergian mereka berkatalah seseorang Kuwait, “Saudaraku yang paling baik, seandainya engkau pergi bersamaku ke negaraku Kuwait untuk mampir beberapa hari kemudian engkau pulang ke negaramu Saudi, berkenankah engkau?  
Seseorang Saudi pun menjawab, “wahai saudaraku yang paling baik, sungguh betapa indahnya jika ku menerima tawaranmu, karena ku belum pernah mengunjungi Kuwait sebelumnya.” Berpelukanlah mereka berdua dengan harunya dan kemudian mereka berdua berangkat ke Negara sang Kuwait.

Sesampainya di Negara itu sang Kuwait menjamunya dengan sangat hormat. Sampai tiba suatu hari dimana sang Kuwait mendapatkan kabar duka lewat telepon dari saudaranya Saudi bahwa pamannya di Saudi telah menemui Rabb yang Agung. Saudara yang Kuwait ini tidak ingin kabar duka ini membuat saudaranya bersedih dan menggangu liburannya di Kuwait, dia membiarkan saudara tidak tahu kabar duka ini. Sehingga saudaranya bisa menikmati hari-hari di Kuwait.

Suatu hari duduklah sang Saudi disebuah balkon samping rumah saudaranya menikmati udara di  Kuwait. Tak sengaja matanya memandang seorang gadis cantik, jatuh hatilah pemuda Saudi ini. Berkatalah dia kesaudaranya Kuwait, “saudaraku, ku melihat seorang gadis cantik lewat disamping rumahmu dan dia telah membuat hati ini bergetar. Ku ingin menikahinya saudaraku…” Maka suatu hari datanglah mereka berdua ke orang tua gadis tersebut untuk meminangnya. Menikahlah sang Saudi dengan gadis tersebut.

Setelah sang Saudi menikahi gadis tadi, pulanglah dia bersama istrinya ke Saudi Arabia. Tahun berganti tahun terdengar kabar bahwa sang Kuwait telah jatuh fakir dan tidak tertinggal satu hartapun pada dirinya. Akhirnya karena tidak ada lagi tempat untuk pulang hiduplah dia dijalanan. Suatu hari terpikirlah dia kepada saudaranya Saudi dan kemudian pergilah dia ke rumah saudaranya itu di Saudi.

Hari itu, didepan rumah saudaranya Saudi dia mengetuk pintu. Keluarlah pembantunya dan menanyakan apa yang diinginkan orang asing ini. Sang Kuwait berkata, “saya adalah saudara dari tuan rumah ini, saya datang dari Kuwait  untuk bertemu tuan dari rumah ini.” Pergilah sang pembantu ke saudara Saudi untuk memberitahukan seseorang yang datang didepan pintu keinginan bertemu dengan tuannya. Berkatalah sang Saudi, “Ambillah roti ini, kemudian berikanlah kepada orang tadi..” diambillah roti itu kepada sang Kuwait.

Tersentaklah hati sang Kuwait, melihat saudaranya hanya memberikan sepotong roti dan tidak ingin menemuinya. Dalam benaknya persaudaraan telah berakhir dengan fakirnya dia. Perjalanan yang sudah lama terjalin hilanglah dengan sekejabnya pada waktu itu. Pergilah sang Kuwait tanpa mengambil sedikitpun potongan roti yang diberikan tadi. Ditengah perjalanannya bertemulah dia dengan seorang ibu-ibu bersama seorang gadis berjalan sambil mencari-cari air karena kehausan. Sang Kuwait waktu itu membawa sedikit air. Ditawarkanlah air itu kepada ibu tersebut. Sang ibu berkata, “aku ingin pergi untuk berhaji di Makkah, bersamaku seorang gadis dan beberapa harta. Kutahu engkau adalah orang yang baik, kuingin menitipkan anakku dan sebagian hartaku kepadamu. Sepulangku dari haji nanti ku akan datang mengambil anak dan hartaku. Dan jika nanti aku tidak datang kembali maka ambillah hartaku dan jadikanlah anakku sebagai istrimu.” Pergilah ibu itu untuk berhaji, meninggalkan anak dan hartanya pada sang Kuwait.

Tahun berganti tahun ibu itu tak juga kembali. Akhirnya sang Kuwait berpikiran untuk mengambil harta dan menikahi gadis dari sang ibu tadi. Berubahlah kondisinya menjadi kaya kembali karena harta yang ditinggal ibu tadi tidak sedikit. Besiaplah sang Kuwait untuk mengadakan upacara walimatul ‘ursynya dengan gadis tadi. Terdengarlah berita penyelenggaraan pernikahan saudaranya Kuwait ditelinga saudaranya sang Saudi. Ketika tiba waktu pernikahan saudara Kuwait datanglah saudara Saudi untuk menemui saudaranya Kuwait. Sesampai didepan pintu berkatalah sang Saudi kepada penjaga gerbang, “aku adalah saudara tuan rumah yang ingin mengadakan upacara ini, aku ingin bertemu dengannya..” pergilah perjaga ke tuan rumah dan memberitahu seseorang yang datang itu.
Berkatalah dia, “saya tidak mempunyai saudara satupun, saya adalah sebatang kara..”
Pergilah sang penjaga untuk mengatakan perkataan tuan rumahnya ke sang Saudi. Bergetarlah hati sang Saudi mendengar perkataan saudaranya. Kemudian dia pergi kedalam menemui saudaranya dengan paksa.

Di depan para hadirin yang sangat banyak berteriaklah sang Saudi, “ wahai para hadirin ! dengarkanlah ceritaku dan cerita saudaraku sang pegantin pria. Kemudian katakanlah sejujurnya manakah cerita yang benar menurut kalian !!! Berceritalah sang Kuwait menceritakan ceritanya dari pertemuan pertamanya dengan sang Saudi sampai kepada ketika dia datang kerumah sang Saudi, dia cuman diberikan sepotong roti kemudian ditinggalkan dijalan.
Berkatalah sang Kuwait, “beginikah yang namanya saudara??”
Kemudian sang Saudi pun berucap, “sudah selesaikah engkau wahai saudaraku bercerita??”. “sudah…” ucap sang Kuwait.
Tiba giliran sang Saudi untuk bercerita, berawal dari pertemuannya di tempat kuliahnya dulu. Dia menceritakan kebaikan-kebaikan yang telah diberikan oleh saudaranya dulu. Sampai pada hari dimana saudaranya Kuwait berada didepan pintu rumahnya.
Berkata sang Saudi, “tahukah engkau wahai saudaraku yang baik, waktu itu kenapa ku tidak keluar untuk menemuimu?”
“Ketahuilah waktu itu ku tidak ingin melihat saudaraku dalam keadaan fakir, hatiku menangis waktu itu jika melihatmu dalam keadaan seperti itu.”
“Tahukah engkau wahai saudaraku?? Roti yang kuberikan kepadamu waktu itu. Waktu itu aku sedang makan kemudian kumendengar engkau datang, ku potong roti yang hendak ku makan itu menjadi dua belah sama rata.” Bergetarlah hati sang Kuwait.  

Kemudian berkata lagi sang Saudi, “tahukah saudaraku, seseorang yang engkau temui dijalan bersama seorang gadis?? Dia adalah ibuku yang kukirim untuk menemuimu. Gadis itu adalah adikku dan harta yang dia berikan kepadamu adalah harta yang kutitipkan kepada ibuku untuk diberikan kepadamu.”
Meneteslah airmata sang Kuwait sambil berkata tersedu-sedu, “saudaraku! Tahukah engkau gadis yang membuatmu jatuh hati dulu, kemudian engkau nikahi itu. Waktu itu dia adalah tunanganku, setelah ku ketahui engkau menyukai dan ingin menikahinya kuambil cincin yang telah kukenakan dijarinya.” Pecahlah tangis bahagia diantara mereka sambil berpelukan erat satu sama lain. Semua hadirin waktu itu pun ikut terharu sedu mendengar kisah mereka berdua.

Saudaraku, begitulah kisah persaudaraan yang perlu kita tubuhkan diantara kita. Persaudaraan yang indah antara muslim dan muslim lainnya. Selamat mengambil hikmah dari sini.


17 agustus 2011, Istanbul  

Komentar

Postingan Populer