Arti sebuah kata, sesuatu yang di anggap remeh

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

“Kucing !!! lain kali lihat-lihat klo jalan..” sebuah kata terlontar keras dari mulut seorang bapak. Mungkin saking kesalnya dia kepada seorang anak muda yang menabraknya tidak sengaja dari belakang. (“kucing” bukan kata sebenarnya)

Sebenarnya penggalan cerita diatas hanya satu dari ribuan peristiwa pemicu gejolak keluarnya kata-kata yang tidak seharusnya di ucapkan oleh seseorang yang berstatus manusia. Manusia merupakan ciptaan Allah Azza wa Jalla yang paling sempurna. Bahkan seorang manusia bisa mencapai derajat malaikat sekalipun. Padahal malaikat adalah ciptaan Allah yang selalu taat tanpa pernah berbuat ingkar. Manusia bisa melewati derajat itu. Subhanallah. Sedihnya manusia yang berhati malaikat itu hanya beberapa saja.

Kembali ke cerita diatas. Sebuah kata yang keluar sengaja atau tidak sengaja, jika diucapkan oleh seorang yang lebih tua tidak lain adalah sesuatu yang diperhatikan lebih oleh seorang yang lebih muda. Tidak hanya dari tua ke muda, tapi dari suara ke suara yang terdengar entah itu teman, guru, orang tua bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun.suara-suara itu pun akan menjadi sebuah bahan tiruan, menjadi sebuah pelajaran baru bagi seseorang yang mendengarnya. Apalagi kata-kata orang tua ke anaknya, kata-kata seorang guru kepada muridnya, tidak memungkin juga kata-kata seorang teman ke teman yang lain.

Tidakkah kita memperhatikan ini? Memang terlihat sesuatu yang remeh. Dari segi lain kita juga bisa melihat, jika sebuah kata jelek terlontar kemudian seseorang mendengar dan menirukannya dilain waktu. Kemudian dari ucapannya yang lain pun mendengar, kemungkinan juga yang mendengar itu akan mengucapkannya dilain waktu dan seterusnya. Sebuah aliran air yang tidak akan putus-putus dan selalu akan mengalir. Tanpa ujung hingga dunia ini akan berakhir. Sebegitu banyakkah orang yang akan tertular? Bagaimana jika kata-kata itu berbuah dosa? Seberapa banyakkah dosa seseorang yang pertama kali mengucapkannya?

Waw !!! bagaimana jika kata-kata itu kita rubah menjadi sebuah kata yang indah didengar, tidak menyakitkan hati, membuahkan senyum suka,  lugas, bijak, tegas pula. Subhanallah.

Kata-kata itu telah keluar sempurna dari bibir baginda Rasulullah SAW. Tidakkah kita melihat buah dari kata-kata beliau? Mutiara-mutiara bahkan emas berkilau indah kalah berharga ketimbang kata-kata beliau. Dan hasilnya? Kita tahu semua itu. “Al-Hadist” sebuah petunjuk kehidupan mendampingi Al-Qur’anu-l Karim.

Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah bersabda.

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.
Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988 [Tetapi lafaz hadits tersebut adalah yang terdapat dalam riwayat muslim] dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda. “Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak difikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat.”

Sebagian ulama mengatakan “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, nescaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara”.

Sebagian pepatah arab mengatakan :


” لاَتَتَكَلَّمْ ِبماَ لاَيَعْنِيْكَ وَدَعِ الكَلاَمَ فيِ كَثِيْرٍ مِمَّا يَعْنِيْكَ حَتَّى تَجِدَ لَهُ   مَوْضِعًا.” 

Artinya : janganlah kamu mengatakan sesuatu yang sia-sia dan tinggalkanlah banyak berkata sesuatu yang bermanfaat sampai pada waktu yang tepat.

وَلاَزِمِ الصُّمْتَ لاَ تَنْطِقْ بِفَاحِشَةٍ

Artinya : dan berdiamlah, jangan kau katakan sesuatu yang jelek.

Komentar

Postingan Populer