Pentingnya Khidmah


    
    

        Khidmah adalah sebuah pekerjaan yang sangat bermakna yang dasarnya dilakukan untuk meraih ridha Allah Swt. Yaitu, tugas untuk menyampaikan nilai-nilai mulia umat manusia kepada jiwa-jiwa yang membutuhkannya. Yaitu, tugas untuk merubah dunia ini menjadi dunia tempat berkumpulnya orang-orang baik dengan wasilah jembatan-jembatan perdamaian yang dibangun di antara umat manusia. Dengan demikian kita tidak perlulah menjanjikan berbagai macam yang besar, mari cukup kita tunaikan saja tugas ini. Mari kita mencari jalan dan temukan bagaimana cara memperdengarkan hakikat kepada orang lain dengan tepat dan benar. Mari kita miliki rasa keprihatinan akan bagaimana caranya kita bisa menyampaikan hakikat yang tiada dua, yang telah Allah nasibkan kepada kita, kita perdengarkan kepada seluruh dunia sekaligus baik anak remaja maupun muda, baik perempuan ataupun laki-laki.

         Selain itu, yang harus kita lakukan adalah kaifiyyah (bagaimana) menunaikannya yang begitu penting. Untuk bisa meraih ridha Allah Swt, kita berusaha menjelaskan Agama Islam yang benar, yang datang dengan perintah kebenaran, dan yang selalu menalkinkan kebenaran, dengan cara yang benar. Kita  berusaha membentuk sebuah lingkungan atau suasana rekonsiliasi antara orang-orang yang memiliki pemahaman, pendapat dunia, dan filsafat kehidupan yang berbeda. Kita mencoba menunjukkan bahwa ada poin-poin umum yang dapat kita bagikan kepada orang-orang yang berasal dari budaya dan pemahaman berbeda juga. Kita tidak tahu, apakah ada sebuah tugas yang lebih mulia dan lebih suci daripada hal ini di muka bumi. Ketika kita diminta untuk memilih apakah tugas ini atau surga, maka tugas inilah yang lebih utama. Ketika ada wasilah untuk hidayah seseorang, meskipun pintu-pintu surga dibuka dan kita dipersilahkan untuk masuk ke dalamnya maka kita tetap memikirkan orang yang mendekati hidayah di belakang kita itu, lalu bisa berkata, "Sebentar, kami berurusan dulu dengan mereka kemudian nanti kami akan datang." Sebegitu sucilah tugas ini.

        Lebih dari itu. Bahkan ketika semua orang berlari menuju surga dan akan berjumpa dengan Jamalullah sekalipun berkata, "Ya Rabb! Aku merasa tidak nyaman jika datang sendirian ke hadiratMu! Aku ingin membawa beberapa orang lagi di sampingku. Mohon izinkan aku beberapa menit lagi ya Allah!" dan lebih memilih untuk keselamatan satu orang lain lagi.

        Berapakah jumlah orang yang akan menjawab ajakan kita atau apakah orang lain akan menerima maupun menolak setelah penjelasan kita dalam menunaikan tugas ini, semua itu tidak ada hubungannya dengan kita. Satu hal yang menghiasi khayalan kita dan tujuan yang menjadi tujuan kita hanyalah ridha Allah semata. Bukan kuasa kita untuk membuat orang lain menerima kita di kalbunya dan menerima penjelasan kita. Tentunya izin dan inayah dari Allah Swt yang tadinya satu tetes lama kelamaan akan menjadi berkumpul, lalu menjadi satu gelas, dan lalu menjadi sebuah air yang banyak seperti air terjun. Selama ini pun terjadi selalu seperti itu.

        Tanpa adanya pemikiran yang demikian dan ketika ada pilihan kehidupan yang abadi maka hidup di dunia ini pun tidak ada artinya. Manusia harus melakukan sesuatu yang berharga. Setiap hari manusia harus mendapatkan surga sekali lagi. Ia harus mengenal Tuhannya sekali lagi. Agar kehidupan yang dia jalani pun bermakna dan berharga. Sebuah kehidupan akan bermakna kehidupan jika bisa terhubung denganNya. Kalau tidak, Al-Qur'an memandang mereka yang tidak mati dalam kaitannya dengan tubuh mereka sebagai orang mati dan berkata, "Kamu tidak dapat membuat orang mati mendengar suaramu." (Surat an-Naml, 27/80) Kalbu yang tidak mendengarkanNya adalah mati. Orang yang tidak ikut dalam kebersamaan denganNya dan orang yang tidak merasakan satu langkah lebih dekat denganNya adalah mati. Orang yang tidak menhubungkan kehidupannya dengan ridhaNya dan orang yang tidak bersikap seolah berada di hadiratNya, pada tingkatannya dianggap sebagai orang mati.

        Selain itu, tidaklah begitu penting untuk hidup tanpa beberapa hal atas nama kehidupan duniawi demi mengutakaman khidmah (pelayanan) dan ubudiyyah (penghambaan). Mungkin beberapa orang terpikirkan akan rumah ataupun tempat tinggal yang luks. Menurut Hocaefendi, kita perlu bersikap mencontoh Yunus Emre dalam hal ini dengan mengatakan, “Bana Seni gerek!” (yang artinya, aku hanya membutuhkanMu!) Bahkan pemahaman dan harapan seperti, "Ah nanti juga akan dikasihkan di akhirat" -dalam satu makam tertentu- adalah satu sikap yang kurang sopan di hadapan Allah. Begitulah pendapat Hocaefendi. Terserah Allah, Dia bisa saja memberi, bisa saja tidak memberi. Adanya harapan untuk mendapatkan makam kewalian pun bahkan bisa memberikan dampak negatif pada hubungan kita dengan Allah. Perasaan dan niat kita harus selalu, "Ya Allah, Jadikanlah kami sebagai hamba yang mendapatkan tawajjuhMu, jadikanlah kami dari golongan hamba-hamba yang rindu kepadaMu, bahkan jika kami buta huruf, lemah, miskin, dan membutuhkan!"

Komentar

  1. Terimakasih sudah menguatkanku utk terus istiqomah dijalan Alloh dg tulisan ini, pa

    BalasHapus
  2. Sama-sama, Alhamdulillah jika bermanfaat.. ditunggu terus kelanjutan tulisannya.. Terima kasih banyak sudah menyempatkan membaca..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer