Ingin Tampil Menarik, Ternyata?


Berpenampilan menarik merupakan dambaan setiap orang, khususnya remaja puteri. Maka pelbagai cara pun dilakoni, termasuk di antaranya adalah dengan menggunakan pakaian ketat—hip style.
Pola berpakaian ketat ternyata membawa dampak negatif yang tidak sedikit bagi kesehatan pemakainya—belum lagi jika dilihat dari sisi syariat yang sudah jelas keharamannya.
PANDANGAN KALANGAN MEDIS TENTANG PAKAIAN KETAT
Kalangan medis menyatakan bahwa pakaian sempit itu merupakan siksaan bagi kebebasan tubuh, juga bahaya murni bagi kesehatan, sel-sel tubuh, pori-pori dan berbagai organ tubuh khususnya organ reproduksi serta organ sirkulasi dan gerak. Pakaian sempit bahkan dapat menyebabkan banyak wanita mengalami kemandulan atau melahirkan secara abnormal (prematur) sehingga membutuhkan operasi caesar, atau merobek dinding rahim.
Dampak pakaian sempit pada organ-organ sirkulasi menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi, akibat menyempitnya pembuluh darah.
Ahli medis juga telah mengingatkan para penggemar pakaian ketat—atau pun yang sekadar ikut-ikutan—bahwa celana ketat sepinggul berpeluang menimbulkan penyakit paresthesia, yaitu perasaan sakit atau abnormal seperti kesemutan, rasa panas seperti terbakar dan sejenisnya. Selain itu, pakaian ketat juga sangat berpotensi menyebabkan gangguan-gangguan pada kulit.
SOLUSINYA, Di antara nasihat yang disampaikan oleh kalangan medis kepada para penggemar pakaian ketat adalah meninggalkan pakaian tersebut dan menggantinya dengan pakaian yang longgar atau baju terusan saja.
Islam sendiri telah mengatur rambu-rambu berpakaian bagi wanita muslimah, dan di antaranya adalah perintah untuk mengenakan hijab (jilbab). Allah berfirman (artinya),
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang yang mukmin. “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal …”. (QS. Al Ahzab: 59).
Hal senada disampaikan oleh Rasul-Nya,
"Dua golongan termasuk penghuni neraka, yang belum pernah kulihat, yaitu orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi. Mereka mencambuki manusia dengannya, dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, bergoyang-goyang dan berlenggak-lenggok, kepala mereka (ada sesuatu) seperti punuk onta yang bergoyang-goyang. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium baunya. Sesungguhnya bau surga itu tercium dari jarak perjalanan begini dan begini.” (HR. Muslim).
Karakter kelompok yang dikabarkan Nabi r dalam hadits ini adalah:
1.Mengenakan pakaian tetapi menyerupai orang telanjang. Pakaian-pakaian tersebut tidak menutupi aurat, karena amat pendek, tipis/tembus pandang dan ketat.
2.Berlenggak-lenggok di depan umum untuk mencari perhatian laki-laki.
3.Bergoyang, sehingga membangkitkan nafsu birahi laki-laki.
4.Kepalanya nampak lebih tinggi, karena dia membuat seni hiasan dari rambut sintesis (semacam sanggul) atau dari lainnya. Saking tingginya dia seperti punuk unta yang sedang berjalan.
Syarat-syarat hijab:
1. Hendaklah hijab tersebut menutupi seluruh tubuh wanita (sebagian ulama juga mewajibkan untuk menutup wajah dan telapak tangan).
2. Hendaklah hijab tersebut tidak berupa perhiasan dan bersulam dengan berbagai macam warna yang menarik perhatian orang.
3. Hendaknya hijab tersebut tidak terlalu tipis, tapi hendaknya panjang dan tidak menampakkan bentuk tubuh, luas dan tidak sempit—pakaian ketat, sudah jelas gugur pada kriteria ini.
4. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir dari segi mode dan potongan, akan tetapi hendaklah hijab itu biasa-biasa saja dan dalam bentuknya yang asli.
5. Hendaklah hijab tersebut tidak menyerupai pakaian laki-laki, baik warna maupun corak.
JILBAB BUDAYA ARAB?
Sebagian wanita enggan untuk mengenakan jilbab, dengan alasan bahwa jilbab bukanlah kewajiban bagi seluruh wanita muslimah, akan tetapi hijab/jilbab adalah bagian dari budaya Arab.
Jilbab belum ada sebelum datangnya Rasulullah  di Makkah dan Madinah. Maka pernyataan bahwa semua itu produk Arab adalah sebuah kelalaian yang keterlaluan dalam memahami sejarah. Dan sayang sekali masalah demikian justru keluar dari mulut orang-orang yang mengaku sebagai orang-orang terdidik.
Para wanita Arab jahiliyah tidak mengenakan jilbab. Bahkan para wanita muslimah pun tidak pernah mengenakan jilbab sampai turunnya ayat hijab yaitu surat An-Nur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59. Dan kedua ayat ini turun di masa Madinah, yaitu fase kedua kenabian. Artinya paling tidak ada masa 13 tahun lamanya jilbab tidak atau belum dikenakan oleh wanita muslimah di masa itu. Apalagi wanita yang bukan muslimah, mereka memang tidak mengenakannya.
Jadi pemandangan wanita di Saudi Arabia sekarang ini, di mana mereka mengenakan cadar hitam yang tertutup sampai wajahnya tentu tidak pernah kita dapati di masa sebelum Islam turun. Ini perlu diperhatikan dengan cermat.
Jilbab bukanlah produk bangsa Arab, tapi produk "langit". Jadi orang-orang yang anti dengan syariat Islam perlu belajar sejarah lebih dalam agar ketika "menyerang" dengan tuduhan, tidak menjadi bahan tertawaan ahli sejarah. Sungguh kasihan!
WANITA DALAM ISLAM
Masalah wanita sangatlah diperhatikan oleh Islam, dan banyak sekali ayat yang Allah turunkan yang ditujukan kepada wanita. Bahkan ada satu surat di dalam Al-Qur’an yang dinamakan Surat “An-Nisaa” (wanita-wanita).
Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya melalui lisan Rasul-Nya hukum-hukum yang berkenaan dengan wanita serta pengajaran-pengajaran yang menyelamatkannya dari cakar-cakar kejahiliyaan, dari tempat pelampiasan hawa nafsu dan syahwat. Wanita di dalam Islam merupakan ibu, istri, saudara kandung dan anak perempuan yang memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah r untuk diperlakukan dengan baik ketika haji wada’ (haji perpisahan).
Allah, memerintahkan kepadanya untuk memakai hijab dan menetap di rumah. Ia merupakan ketenangan yang nikmat bagi suami dan merupakan ibu harapan bagi anak-anak, maka tempat yang cocok untuk kehalusan dan kelembutannya itu adalah rumah, sebagaimana Firman Allah , artinya:
“Dan menetaplah di rumah-rumah kalian”. (QS. Al-Ahzab: 33).
Islam melarangnya dari bertabarruj (berhias/berdandan dan bertingkah yang berlebih-lebihan) serta memerintahkannya untuk melabuhkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya agar kehormatannya lebih terjaga.
Maka ketika musuh-musuh Islam melihat penghargaan yang diberikan kepada wanita muslimah, mereka menjadi iri. Mereka pun kemudian melakukan makar (rencana jahat) terhadapnya dan menanti-nantikan marabahaya menimpanya. Mereka memasang perangkap untuknya. Lalu mereka mendatangkan gerakan-gerakan beracun yang kelihatannya adalah rahmat namun pada hekekatnya adalah azab. Gerakan kebebasan—gerakan persamaan (emansipasi)—gerakan gombal.
Gerakan-gerakan tersebut berusaha keras untuk menghancurkan martabat dan akhlak wanita. Dengan rencana-rencana jahat tersebut, maka banyak wanita muslimah yang memakai pakaian telanjang kemudian bergentayangan di lapangan-lapangan dengan (menyebarkan) senjata kotornya, yaitu senjata rayuan gombal. Wanita muslimah itu pun kemudian mempelajari ilmu-ilmu magis rayuan dengan perantara film-film bugil, cerita-cerita porno dan gambar-gambar telanjang. Mereka kemudian mendapati pria dan wanita bebas, yang dengan lidah dan kulitnya (yang tersingkap) mereka jelaskan kepadanya bagaimana menjadi seseorang yang berpenampilan seksi dan menggiurkan, baik di dalam rumah maupun di jalanan. Menggiurkan dalam ucapan dan gerakan, serta dalam pakaian dan perhiasan, begitu pula dalam gaya jalan, gaya duduk dan tatapan mata yang mempesonakan.
Namun jika wanita muslimah tersebut merupakan wanita yang konsekuen dengan hijab syar’iy (hijab yang diperintahkan) oleh agama, mereka pun (musuh-musuh Islam) menuduhnya dengan berbagai macam tuduhan. Inilah yang menyebabkan pertahanan wanita muslimah tersebut kembali menjadi rapuh sehingga ia pun kemudian memasrahkan dirinya untuk mengikuti kenyataan.
Namun Allah  berfirman, artinya:
“Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai”.(QS. At Taubah: 32).
Namun, masih banyak pemudi-pemudi Islam yang tidak terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran bejat itu. Bahkan mereka memandangnya dengan pandangan ejekan, mereka masih memandang kepada kemuliaan Islam dan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Maka semoga Allah  memelihara mereka dengan menutupi aib-aib mereka dengan hijab, dan hanya kepunyaan Allahlah segala puji dan segala pertolongan.
KISAH DAN PELAJARAN ( Wanita Penghuni Surga )
Ada seorang wanita berkulit hitam dan bertubuh besar, datang menemui Rasulullah r. Wanita itu bertanya, "Wahai Rasulullah! Aku biasa terserang penyakit ayan dan sering terbuka auratku. Berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku." Beliau menjawab, "Kalau engkau mau bersabarlah, sebagai balasannya engkau akan masuk surga. Tetapi jika engkau mau, akan aku doakan, semoga Allah memberi kesembuhan kepadamu." Sang wanita menjawab, "Aku akan bersabar. Tetapi doakanlah agar auratku tidak terbuka (ketika penyakitku kambuh)." Maka beliau pun mendoakannya agar tidak terbuka auratnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Subhanallah…! Seorang wanita berkulit hitam, berbadan besar, terbuka auratnya tanpa sengaja, dia sudah mendapat keringanan, tetapi ia justru memohon kepada Nabi r untuk mendoakannya agar tidak terbuka auratnya.
Lalu bagaimana nasib kalangan wanita di jaman sekarang ini yang membuka auratnya dengan kemauan sendiri, memamerkannya di hadapan kaum lelaki, sementara mereka adalah wanita-wanita cantik berkulit putih? Tidakkah engkau ingin wahai Saudari, untuk tergolong di antara wanita surga?

Komentar

Postingan Populer