PANCA JIWA PESANTREN

KH. Hasan Abdullah Sahal
AWAS! Penjajahan bisa terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan. Waspadalah.....! Waspadalah......!

Panca Jiwa itu milik semua pondok pesantren yang tak bisa ditinggalkan. Tanpa itu pesantren palsu, tidak sah. Jiwa itulah yang mengantar para santri dan alumni pesantren anti penjajah dan penjajahan hati, fikiran dan fisik. Dan itulah Islam.

1. Keikhlasan, bermakna pemurnian diri dari segala yang kotor dalam beribadah dan berperilaku untuk dirinya maupun orang lain. Benar-benar "sepi ing pamrih" lahiriah maupun batiniah. Hanya kepada Allah segala yang ada pada dirinya dan yang dilakukan dalam hidup ini, jauh dari perhitungan imbalan atau balasan.

Kyai, pembantu, guru-guru, pengurus sampai para santri tidak berfikir mengharapkan balas budi, termasuk tidak karena takut dibenci, dicaci maki, ingin disukai, dipuja puji. Santri besar ikhlas menyayangi santri kecil dan yang kecil ikhlas menghormati yang besar karena Allah, "lillaah".

Iblis-iblis Internasional mencoba terus untuk mengganggu keikhlasan. Maka tauhid menjadi nyawa dalam kegiatan sampai derajat semurni-murninya. Banyak santri senang menantang diuji keikhlasannya, untuk ketinggian derajatnya.

2, Kesederhanaan, adalah watak dan tanda orang berjiwa besar, sanggup hidup sesuai dengan keadaannya, meninggalkan dan mengusir hedonisme bisikan Iblis-iblis International dan Agen-agennya agar pesantren berbuat neka-neka atau macem-macem sesuai desainnya, kemudian dikendalikannya, sampai terlena.

Kekuatan jiwa kesederhanaan memusingkan penjajah dan budak-budak keenakan kemewahan semu karena masih terjajah! Makan, pakaian mode-mode, warna dsb. Sampai potongan rambutpun memilih kesederhanaan. Kendaraan pun seperlunya bukan jor-joran, berlomba-lomba menunjukkan "hasil korupsi, kolusi, nepotisme"nya, buah penindasannya, upah kedholimannya, kepada wong cilik. Maka kepalsuan nampak bila ada santri/alumni pesantren yang berperilaku demikian.

"Kalau bisa dipermudah mengapa harus dipersulit" bukannya "kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah".

3. Ukhuwah Islamiyah, jiwa persaudaraan atas dasar ajaran Islam. Paling disengiti kaum "lan tardlaa" adalah ayat ukhuwah. Tapi ayat Al-Qur`an terjaga terus, tak akan berubah atau terhapus selamanya. Banyaknya aliran yang muncul dan mungkin akan muncul yang baru lagi tidak mengganggu ukhuwah. Terbukanya pintu ijtihad bagi yang berhak merupakan jiwa luasnya toleransi dalam bingkai ukhuwah.

Penjajah sengaja membesar-besarkan perbedaan kecil ini untuk mengobok-obok ukhuwah, tapi gagal atau hasil yang dicapai jauh dari target minimal dibanding upaya dan dana yang dikerahkan. Iri dengki ini turun temurun dan tampaknya tak henti-henti. Pesantren tetap berukhuwah bukan karena apa-apa tapi taat total pada tuntunan Allah Sang Penuntun SWT.

4. Berdikari, Jiwa Menolong Diri Sendiri. Alangkah jengkelnya mereka yang coba-coba mengatur, menjajah dengan sistem dan kiat-kiat yang menggelikan bahkan menjijikkan. Serigalawan, serigalawati manca negara dan domestik kluyuran keluar masuk pondok pesantren untuk menjajah. Memuakkan! Untung tidak "diludahi" para santri yang berpanca jiwa. Sistem pengajaran, pendidikan, pembinaan pengasuhan pondok pesantren tidak mudah menerima masukan yang selamanya "wajib" diwaspadai karena dikhawatirkan ada unsur penjajahan oleh kaum musyrik "najis".

5. Kebebasan, Jiwa bebas memilih tanpa ada paksaan bahkan anti pemaksaan. Meskipun tampaknya benar, baik dan bermanfaat pondok pesantren bebas menerima atau menolak kehadirannya masuk ke dalam. Pondok pesantren selamanya tidak akan pernah mengenal mayoritas-minoritas dalam menentukan kebijakan. Ini pula yang dengan intensif diupayakan, dipaksakan oleh penjajah dan agen, budak, kaki tangan dan murid-muridnya. Tidak berhasil!!!

Kyai sudah merancang dengan pasti amal yang diridlai Allah dan kenistaan yang dimurkai-Nya, "sumber ridla maupun murka"-Nya sesuai referensi yang diyakini dan diwariskan ke generasi-generasi berikutnya.
Kebebasan adalah rohmat, penjajahan/intervensi adalah adzab. Penjajah terkecoh tatkala upayanya seakan diterima ternyata ditertawakan ayam-ayam betina.

"Panca Jiwa mewaspadai Penjajah dan Penjajahan selamanya."

"Islam membebaskan ummat manusia dari penjajah dan penjajahan selamanya."

Gontor, April 4, '06
( Sumber : Catatan FB beliau KH. Hasan Abdullah Sahal )

Komentar

Postingan Populer