Wahai Diriku…


KH. Hasan Abdullah SahalWahai diriku…..

Hidup ini panjang, umur itu pendek, nyawa itu mahal, nasib baik ajang perebutan, hati orang hidup hanya satu. Perjuangan merancang menjalankan dan memperoleh fadhilah ketinggian hak milik semua makhluq ciptaan SANG KHOLIQ SWT MUTLAQ.

Wahai diriku….

ISLAM TAK KENAL untung-rugi untuk amal sholeh tapi halal-haram dan benar-salah menurut syari`at SANG RABB SWT MUTLAQ. Modal palsu tidak laku, manusia palsu, doktrin palsu jangan dipaksa, dihias, direkayasa agar laku. Menyesal dan menyesalkan, sesat dan menyesatkan.

Wahai diriku….

Tulisan SANG MAHA PENGATUR SWT MUTLAQ lebih baik, jangan memaksakan “baik” mu sendiri kepada-NYA. Jangan layani serius diskusi-diskusi tentang yang kau yakini, nanti dia manja.

Wahai diriku….

Nilai-Nilai Kemanusiaan mengambang diciptakan oleh kaum yang tak "bermas`uliyyah fithriyyah",
WASPADALAH!

Wahai diriku….

Bergaulah dengan kesabaran atas kekejaman miliu, jangan menghindar dan tak sabar atas resikonya.

Wahai diriku….

Menjadi baik jangan menunggu mengajak atau diajak, pahala terbuka untuk semua di setiap waktu dan tempat. Jadilah kau yang terbaik, berbuat terbaik dan akhirnya mendapatkan hasil yang terbaik.

Wahai diriku….

Syari`ah harus bahkan wajib diterapkan. Umat, pemeluknya sepakat, kecuali lemah iman karena IBLIS-IBLIS keduniaan…

Proses dan keberhasilannya harus syar`iy tidak ngawur atau gampang-gampangan.

Wahai diriku….

Sunnatullah tetap valid sepanjang zaman tidak pula ada benturan antara unsur-unsur alam dan alamiah. Kerajaan Allah pasti berdiri dengan hukum-hukum-NYa. Sikap Pro-Kontra manusia tidak jadi pertimbangan, apalagi HANYA bersandar, berasas mayoritas-minoritas suara pendapat.

Wahai diriku….

Hama pengganggu pendidikan totalitas dan totalitas pendidikan. “keguruan, pengembangan, pengabdian” waspadai wereng-wereng keikhlasan: berfikiran sektoral, tradisional, kultural, feodal/kasta terselubung, nafsu maslahat individual, kecongkakan intelektual, titel, berguru baru (meguru anyar). Perhatian penuh, semangat tinggi karena kepentingan, kalau tidak, mlengos.


Gontor, Ramadhan 10, '26
( Sumber : Catatan FB beliau KH. Hasan Abdullah Sahal )

Komentar

Postingan Populer