SERIGALAKAN BANGSA INI


KH. Hasan Abdullah SahalPENJAJAH dan PENJAJAHAN adalah akibat kelemahan bangsa sendiri. Alangkah tenteramnya jadi anak jajahan. Tapi motto/prinsip manusia waras:
”Sehina-hina derajat, sepahit-pahit nasib, sejelek-jelek situasi adalah dimana manusia dijajah oleh pihak lain; berkurang atau tidak punya kemerdekaan; meskipun dengan rayuan manis: peningkatan keamanan, kesejahteraan, kemajuan, kebebasan dst. dst. Memuakkan memang ungkapan-ungkapan penjajahan terselubung itu”. Tak pernah ada orang asing datang mengaku secara terbuka: "kami datang untuk menjajah kamu", atau "lived to kill"....Tak mungkinlah!
Kebijakan politik penyelenggaraan kehidupan bernegara meminta "fatwa" pihak penjajah; sistem ekonomi mengemis santunan; keamanan negara menggantungkan diri pada restu penjajah yang "baik hati", meminta bantuan. Bokek, berhutang, tinggal calling! Alangkah enaknya dijajah! Pantas NYAMAN diperpanjang sampai tiga abad lebih. Orang Jawa bilang: "betah, marga butuh", betah karena butuh!
Nusantara menjadi bancakan/haflah/kenduri di waktu damai, menjadi pasar jual beli senjata di waktu sengketa. Penasehat-penasehat politik, ekonomi, keamanan dan lain-lain dengan kelihaian caranya masing-masing mempraktekkan pengamalan "membagi-bagi berkat" dari pulang kenduri "kurasan" sumber daya alam Republik yang katanya merdeka, dibantu kekuatan Sumber Daya Maling anak negeri.
Tidak faham Islam orang yang tak pernah faham Jahiliyah,
Tidak faham Merdeka orang yang tak tahu Penjajahan,
Tidak faham Kemajuan orang yang tak tahu Kemunduran,
Teruskanlah! Qis 'alaihi ghoiroh! Qiaskan dengan yang lain!
Apa itu jahiliyah, penjajahan, kemunduran?
Apa itu islam, kemerdekaan, kemajuan?
Teruskan sendiri!
Semangat merdeka selalu muncul dan tak akan pernah bisa hilang, tapi apa, ke mana kemerdekaan itu, dan untuk apa?. Faham kah eksekutif, legislatif dan yudikatif apa itu merdeka? Tak yakin kita kan?!
Mengusir penjajah secara fisik sajakah? Ingat hapalan wirid wajib bangsa kita: ”Sepahit-pahit hidup adalah hilangnya semua atau sebagian hak menentukan nasib dan -selanjutnya- mengatur diri. Pengekangan dan pemaksaan secara sepihak tanpa dasar manusiawi adalah salah satu bentuk penjajahan/kedholiman. Maka, intervensi dan rekayasa ke arahnya adalah langkah-langkah penjajahan/kedholiman. Waspadalah! Waspadalah!”
Demi melestarikan penjajahan, virus-virus penyakit anti kemerdekaan dipelihara, dibina, disuburkan dan dilestarikan. Diantaranya: kehilangan kepercayaan diri, kelemahan berdisiplin, dan kerakusan individual atau ambisi kelompok/golongan, pemuasan nafsu biologis keduniaan.
Bangsa yang picik adalah bangsa yang menganut paham menyamakan kemerdekaan dengan kebebasan tanpa batas, padahal semua yang waras tahu benar dan mendeklarasikan bahwa: "KEBEBASAN ADALAH SAUDARA KANDUNG KEBINATANGAN".
Bangsa-bangsa yang dijajah fisik dan mentalnya; dikuras sumber daya alamnya, dipaksa budayanya, dimatikan jiwa kemanusiaanya, dipadamkan api kemerdekaannya; matilah kepercayaan dirinya, dihidupkannya fanatisme salah, dan dinyalakannya api perpecahan sampai turun temurun ke anak cucu.
Semua manusia tak mau dijajah, diatur orang lain secara sepihak tanpa dasar yang dimufakati bersama. Kalau bisa merdeka, mengapa harus dijajah?. Sebaliknya banyak manusia yang berambisi menjajah, mengatur orang lain dengan payung, dengan alat, dengan senjata dll, mereka berfikir egoistis ambisius : ”Kalau bisa dijajah, mengapa dibiarkan/dikasih merdeka?”
Nah serigala, buaya, kancil sampai singa berunjuk kebolehannya berkampanye di belantara-belantara pilihannya. Bermodalkan kemajuan ilmu, kekuatan fisik/senjata, kelihaian berpolicik/berpolitik, barisan serigalawan-serigalawati -wa ’aalihii wa shohbihii ajma'iin- mendeklarasikan keunggulan masing-masing dengan janji-janji manis atau kalau perlu dengan gertak-gertak keras untuk melancarkan hegemoninya, keabsahannya menguras kas negara atau menjual aset bangsa.

Ketuhanan Yang Maha Esa yang gimana yang mereka kehendaki?
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab yang bagaimana?
Bangsa waras atau sakitkah yang menghuni Republik yang katanya merdeka ini?
Waras yang bagaimana? Atau kalau sakit, sakit yang bagaimana?
Kita ini tipe generasi yang bagaimana?
Kalau kasihan kepada Anak bangsa, anak bangsa yang bagaimana?
Jual diri, jual badan usaha milik anak bangsa?
Korban-korban penyesatan, kerusakan moral dan kesengsaraan bertambah subur, seakan-akan mereka dipesankan jatah tiket ke neraka kelak seperti yang ditegaskan dalam Al-Qur'an tatkala neraka jahannam mengeluh waktu ditanya: "Sudah penuh??" Dijawabnya: "Mau ditambah lagi??"

Apa yang belum ada di tanah air kita ini?
Siapa yang belum merusak Republik ini? Proklamasi ini?
Komplit sudah!
Retorika, logika manis terlontarkan, penyumbat, "peredam sementara" gejolak hati anak-anak kecil yang membaca "bapak-bapak mereka sedang menuliskan sejarah masa depan generasi".
Ada-ada saja ulah bangsa ini untuk belajar merdeka, sampai-sampai menggantungkan diri, mengikatkan diri, manjatuhkan harga diri dan menggadaikan negeri juga termasuk mata pelajaran, mata kuliah BELAJAR MERDEKA yang kelas terakhirnya, tammatnya, khatamnya nggak nyampe-nyampe.....kok gak entek-entek... sih?!
Anak-anak yang sholeh, cerdas, berprestasi mana? Kemana? Dikemanakan? Oleh siapa? Oleh yang berpikir "untung rugi" untuk kabilahnya, LSM-nya, bisnisnya, komisinya, Anunya dan anunya? Na'uudzubillaah! Subhaanallaah!

Apakah AL-HAKIM SWT kasihan pada kaum opportunist jangan-jangan (kalau) gak dapat bagian keuntungan? Subhaanallaah!
Bencana, malapetaka menimpa tak henti-henti. Kekerasan, kemungkaran, keonaran, kebebasan hewani, kebebasan berekspresi "kethek ogleng", berkreasi "menjajakan daging mentah" di panggung-panggung pertunjukan; bermunculan dan berdatangan silih berganti.
Kasihan juga kah AL-HAKIM SWT kalau serigalawan-serigalawati, buayawan-buayawati lokal, regional, nasional dan internasional gak dapat mangsa?
Jalan-jalan lurus moral kehidupan harus kena terjang arus lahar-lahar panas kebatilan, lumpur-lumpur panas kerusakan untuk menutup rapat-rapat munculnya kembali?

Oh! Nasibmu, Moral Kemanusiaan!
Oh! Nasib Kami! Bangsa yang kata nenek "PERNAH" merdeka.
Aksi PENEMBAKAN aparat di depan mata anak kandung diajarkan, dididikkan, dan dilestarikan agar perilaku anak bangsa semakin bengis, kelak dikemudian hari menjadi cerdas terbiasa memperagakan dendam, dan sutradara asing pun khusyuk "berdoa" agar konflik berkepanjangan tak usah pernah reda, "semoga" mereka meraup keuntungan, melipatkan hasil jarahan negara jajahan.

Andaikata keputusasaan bukan sifat watak ke"kafir"an, kekufuran dan kategori larangan, mungkin bangsa ini memilih menjadi paling terdepan menentukan berputus asa. Meskipun sudah terlalu jauh terlambat, bukalah hati, hidupkan akal, betulkan peradaban manusiawi yang rusak ini, tak usah dibungkus kemasan penyumbat, penutup, kamuflase-kamuflase kumal dan gombal karena telah termasyhur/terkenal kepalsuannya dan kebohongannya.
Berpeganglah pada KEBENARAN -akan- munculnya orang-orang yang benar. Jangan ikuti orang yang kali ini benar karena lain kali atau esok hari belum tentu dia benar!
Seruan-seruan, ajakan-ajakan untuk menjadi serigala ada di depan mata dan telinga, membutakan, memekakkan insan-insan berhati kosong, "beriman" kebendaan, bertuhankan hawa nafsu keserakahan.

Sampai kapan?
Kita masih hidup,
hati kita masih hidup,
nurani kita masih hidup,
Jangan dibunuh oleh "kelemahan nasib sementara" posisi kita.
Apakah yang percaya diri pada kebenarannya tak boleh menyatakan kebenaran?
Apakah yang percaya diri pada kekuatannya tak boleh menampakkan kekuatan?
Apakah yang sadar tak boleh meyakini kesadarannya?
Sejarah terus berjalan, bumi-bumi akan menjadi saksi-saksi pelapor berita kepada AL-KHALIQ SWT Sang Pencipta. "….tuhadditsu akhbaarohaa…", dst.
Generasi ini mungkin bersumpah-sumpah, Baru tahu kalau merdeka itu begini ini! Baru tahu kalau merdeka itu "CUMA" gini ini! Caapek deeeeh!
Tanyalah kakek-kakek! Nenek-nenek!
Jawabannya sama, mereka baru tahu kalau merdeka itu ya HANYA gini ini! Caapek deeeh!

Gontor, August 17, '07
( Sumber : Catatan FB beliau KH. Hasan Abdullah Sahal )

Komentar

Postingan Populer