Bunga yang Terkejut (9)



Udara siang itu sangat cerah secerah senyuman bayi di pelukan ibu. Semakin cerahnya udara itu semua makhluk yang hidup menjadi semakin hidup, persis ketika senyum bayi itu melebar, sang ibu pun tertular, dia ikut tersenyum mekar.

Bunga di musim semi tidak hanya satu. Tulip-tulip itu seperti sejenis rumput di pandang rerumputan. Satu di antara seribu. İstanbul, terbentang hamparan bunga-bunga bertabur warna-warna. Bahkan sang pelangi yang tersembunyi cemburu kepada mereka.


--o0o—

Rudi. Pemuda tampan yang sedang berwajah muram.

Keindahan udara tidak menarik di hatinya. Warna-warni bunga tak tampak di matanya. Padahal semua orang datang tuk menikmati keindahan warna-warni ini. İya, kadang tidak semua hati merasakan hal yang sama. Meski berada di hadapan keindahan yang sama. Begitu pula Rudi Yohanes, dia sedang berada dalam gelap permasalahan cinta. Kekasih lama itu kini menghindar setiap dia mendekatinya. Entah apa salahku? Apakah hanya karena perbedaan agama? pikirnya.

Di sebuah kafe, di dekat rerumputan hijau samping Panorama Istanbul. Tempat itu bernama lengkap Panorama 1453 Tarih Muzesi, sebuah musium yang menyediakan gambaran pembukaan benteng Konstantine oleh Sultan Muhammad kedua. Di dekat situlah dia sedang menikmati secangkir kopi hitam sendirian.

Dia datang bukan untuk berjalan-jalan layaknya semua turis yang datang. Dia hanya sedang mencari cintanya yang tiba-tiba tiada dari hadapannya. Tempat-tempat wisata itu hanya sebagai alasan, kadang juga sebagai hiburan, juga sebagai tempat tuk memikirakan jalan keluar dari permasalahan. Ada nama baru yang terselip di nama cintanya yang lama, sekarang menjadi Siti Maryam. Dahulu saat mereka berdua masih bersama, dia biasa memanggilnya Maria saja.

--o0o—

Tett! Suara bel apartemen Siti berbunyi.

Tanpa bertanya Siti pun memencet tombol merah otomatis untuk membuka pintu apartemen bawah yang terkunci.

Tok tok! Kini suara pintu rumah yang diketok.

Sebelum membuka, Siti mengintip dari sebuah lobang di tengah pintu. “Astaghfirullah!” ucapnya kaget. Ada seorang lelaki yang berdiri menunggu dibukakannya pintu. Namun wajahnya tak tampak. Apalagi di rumah hanya ada beberapa teman wanita. Bahkan tidak pernah ada pria yang datang berkunjung sebelumnya. Jangan-jangan ini petaka, pikirnya dalam hati.

Pintu itu tidak jadi dibuka. Lalu, pria itu pun pergi entah kemana.

“Maria, tadi aku yang datang. Kenapa tidak dibuka? Aku tahu kau ada di balik pintu.” Sebuah pesan meluncur ke handphone Siti setelah berlalu setengah jam yang lalu.

Siti sekarang tahu, pria yang datang tadi adalah Rudi. Bagaimana dia bisa tahu alamat rumahku, tanya Siti bingung. Namun Siti masih merasakan hal yang sama. Rudi adalah orang yang tidak kasar. Kata-katanya masih lembut seperti dahulu saat berpacaran. Tapi sejak masuk Islam, Lala menghimbau adiknya untuk berjaga-jaga. Lala sangat khawatir dengan keadaan Siti yang sendiri. Sejak itu pandangan Siti berubah terhadap Rudi. Dia selalu berlari dari kehadiran Rudi. Sebenarnya Siti juga tidak tega berbuat itu, berkali-kali dia menangis sendiri di dalam kamar, seperti ada tekanan besar yang dia rasakan.

Saat itu, ada dua burung dara yang hinggap di jendela kamar Siti. Dua burung itu seperti sepasang kekasih yang bermain-main menikmati cinta. Air mata Siti kembali terurai. Dia tak kuat lagi.

“Maaf Rudi. Ada apa?” Siti untuk yang pertama kali memberanikan diri berkirim pesan.
“Adakah waktu tuk kita bertemu. Mungkin untuk yang terakhir kali Maria.”

Siti terdiam lama. Dia berpikir entah langkah apa yang akan dia lakukan. Dia teringat akan Wildan.

“Aku harus bagaimana Kak Wildan?” tanya Siti setelah menjelaskan panjang lebar melalui pesan.
Wildan sadar bahwa permasalahan terlihat semakin serius dan dewasa. Dia pun menginginkan segera terselesainya urusan ini.
“Iya sudah, terima saja tawarannya,” ucap Wildan tegas.

“Tapi, Kak Wildan juga ikut yah. Siti juga masih takut.”
“Iya, kakak tadi juga berpikir begitu. Kita jalan terpisah saja nanti. Jangan sampai Rudi tahu kalau kakak ada di belakang Siti.”
“Iya kak, terima kasih banyak.”

Entah Siti menganggap Wildan sebagai apa. Namun keputusan yang diberikannya selalu saja menentramkan hatinya.

“Rud, besok temuin aku di Taksim saja. Sekalian aku ada urusan disana bersama teman.”
“Terima kasih Maria. Jam berapa?”
“Siang, sekitar jam 14.00 saja.”
“Oke. Sampai ketemu.”


--o0o—

Malam itu bintang-bintang menghiasi langit Istanbul. Lampu-lampu perumahan juga tak mau kalah mewarnai pesona petang kota terindah dunia ini. Daus memandangi semua itu dari jendela kamarnya yang di lantai lima. Jalanan masih ramai. Kendaraan yang berganti berlalu lalang. Selain itu, dia mengamati orang-orang di tengah keramaian. Wajah mereka bermacam-macam. Di wajah-wajah itu terlihat ada gembira, murung, tegang, cerah, sedih, dan datar.

“Sudahlah cak. Jangan murung begitu terus!” ucap Daus kepada Wildan yang terlihat banyak diam sejak siang.

Huhhh.... Wildan melengguh sambil menyenderkan kepalanya di atas sofa. Matanya memutari langit-langit rumah itu.

“Kenapa? Takut sesuatu?”
“Bingung cak,” jawab Wildan singkat.
“Kalau jodoh insyaAllah tidak akan kemana.” Sebuah nasehat terlontar dari mulut Daus.
“Iya, aku tahu itu. Masalahnya, aku tidak pernah seserius ini dengan lawan jenis. Sampean juga tahu bagaimana tingkahku kalau di depan cewek-cewek. Tidak setentram ini cak.” Ungkap Wildan mencurahkan isi hatinya.

“Apa ini yang namanya cinta?” goda Daus.
“Embohh.. Entahlah...”
“Doain besok tidak terjadi apa-apa ya cak. Aku ya cuma ingin mengerjakan tanggung jawab sebagai pelindung saja dulu. Selanjutnya aku nggak tahu,” tambah Wildan lagi.
“Iya, pasti. Maaf aku nggak bisa ikut. Aku ada janji sama kenalan baru.”
“Eh, ada kenalan baru? Cewek atau cowok?” Wildan penasaran.
“Cowok ndul!!!”
“Yeeee.... ya nggak pake ndul ndul begitulah. Kan tersinggung aku. Mentang-mentang rambutmu belum botak.”
“InsyaAllah tidak akan botak. Amiiiiinn...”
“Haha... semoga saja..” tambah Wildan.

--o0o—

Siang hari pukul 12.00.

Daus telah mengatur janji dengan Aziz. Rencananya, Daus yang berkunjung ke rumah Aziz. Sekaligus memberikan kejutan kepada Rosda. Sejak pertemuan yang gagal itu Rosda tidak pernah lagi menghubungi Daus. Daus pun terlalu sibuk dengan ujian dan Rosda terlupa.  Sudah beberapa kali Daus berkirim pesan, namun tak ada jawaban. Bunga muda itu seperti sedang terluka, sebab sang kumbang yang melupakan madunya.

“Kang, saya berangkat ke rumah akang ya,” ucap Daus kepada Aziz dalam pesan.
“Owh iya, aku tunggu. Sips.”

Beşiktas dan Galatasaray berjarak 9 km. Jika ditempuh dengan bus mungkin sekitar 18 menit. Perjalanan itu melewati Ortaköy, sebuah masjid yang  terletak pas di pinggir Boğaz, selat Bosphorus. Masjid ini dibangun oleh Sultan Abdul Majid pada tahun 1853. Ada dua menara yang dapat dinaiki dengan tangga. Masjid Ortaköy terlihat sempurna dengan gaya arsitek Usmani yang indah. Nama resmi dari Masjid ini adalah Büyük Mecidiye Camii (Masjid Raya Sultan Abdül Mejid). Lalu perjalanan berlanjut lurus di tepian selat. Daus melihat pemandangan indah ini dengan menengok ke arah kiri.

Hingga sampai pada sebuah masjid lain yang bernama Kılıç Ali Paşa Camii. Salah satu karya dari arsitek terkenal Mimar Sinan. Dibangun pada tahun 1580. Masjid itu juga memiliki sebuah kulliye yang terdiri dari türbe (pemakaman khusus), medrese (madrasah), dan hamam (kamar mandi khas Turki). Kemudian jalan berbelok ke arah kanan hingga sampai di kota bernama Galatasaray.

“Saya sudah sampai di Galatasaray kang. Rumahnya dimana?”
“Coba kamu pergi ke tempat yang namanya Telvin Nargile Kafe di jalan İstiklal. Aku sedang disana sama adikku.”
“Oke kang. On the way.”

Setelah bertanya Daus berjalan ke tempat yang Aziz bilang. Tidak ada bawaan yang berat, hanya ada satu tas berisi laptop kecil dan beberapa buku. Daus telah melihat Aziz dan Rosda dari kejauhan di Telvin Nargile Kafe. Rosda dan Aziz terlihat sedang bermain laptop ditemani cangkir kopi masing-masing.

“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Hoş geldin,” sapa Aziz ramah. Sedang Rosda terkaget dengan keakraban mereka berdua.
“Kak Daus kenal sama Kak Aziz?” tanya Rosda penasaran.
“Emang keliatan tidak kenal?” tanya Daus bercanda.
“Bisa jadi,” jawab Rosda malu.

--o0o—

Taksim pukul 14.15.

“Apa kabar Rudi?” tanya Siti pelan.
“Baik. Kamu sendiri?” jawab Rudi singkat.
“Baik juga.”
“Mau minum apa? Apa sudah makan?” tanya Rudi.
“Sudah. Aku pesan minum saja.”

Rudi melambaikan tangan memanggil pelayan. Rudi bercakap menggunakan Bahasa İnggris. Dua buah minuman pun dipesan. Keadaan kembali senyap tanpa ada yang memulai berbicara. Siti menundukkan pandangan, sedang Rudi memandangi tampilan Siti yang berbeda.

“Kamu cantik pakai jilbab seperti ini.”
“Terima kasih.”

“Aku sudah lama tahu tempat kamu, kampus kuliah kamu, tapi baru kali ini aku berani menyapamu lebih dekat. Maaf dengan pesan ancamanku kemarin. Sebenarnya aku pun melihatmu di Uskudar waktu itu. Aku juga tahu ada dua orang lelaki yang mendatangimu.” Jelas Rudi dengan bahasa yang santun.

Wajah Siti berubah. Kini matanya terlihat lebih lebar. Badannya menjadi tegap. Mulutnya terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Bunga yang satu ini sedang terkejut dan bingung.

“Bunga yang Terkejut” adalah cerita sambungan dari “Bunga-bunga yang Mekar.” 
Kahramanmaraş Turki, 11 April 2014









   

Komentar

Postingan Populer