“Tetesan Sesal”



Betapa bodohnya aku! Bodoh dan sangat bodoh!
Kenapa baru saat ini aku bisa berpikir dengan hati. Kemana aku selama ini!

Namanya Wais Al-Qarni, dia masih sepertiku, menjadi mahasiswa di sebuah Universitas di Gaziantep. Dia seorang teman yang baik, wajahnya tidak terlalu tampan, dan memiliki ciri khas wajah pemuda Nusantara asal Sumatera.

Sejak kedatangannya ke kota Gaziantep aku mengenalnya. Dia adalah satu-satunya teman yang menjadi lawan berbicaraku dengan Bahasa Indonesia di kota ini. Aku tak memiliki teman yang lain. Hanya dia seoranglah mahasiswa Indonesia di kota Gaziantep selain aku.


Dia anak yang baik dan periang. Setiap kami memiliki waktu luang, dia datang berkunjung ke rumahku. Pemuda Sumatera ini selalu mengajakku untuk berfikir dengan berbagai macam ceritanya.
“Andi, kau tahu apa rahasia kenapa aku bisa ke sini?”
“Tidak,” jawabku.
“Hanya doa teman. İya, doa yang selalu aku panjatkan ketika setelah sholat itu yang menjadikanku kesini.”
“Apa hanya itu?”
“Iya. İni luaaaaaarrr biasaa!” ucapnya dengan menunjukkan mimik wajah yang begitu serius.

Aku yang hanya menamatkan sekolah menengah umum, tentu aku tidak sebegitu agamis seperti halnya Wais. Aku tidak bisa merasakan adanya sentuhan-sentuhan rohani layaknya yang dia ceritakan. Namun, dari situ kadang aku mulai berfikir. Dia pernah sekolah di sebuah pesantren besar di pulau Jawa. Sebuah pesantren yang terkenal dengan nama Gontor.

Banyak teman-temanku dari Turki yang menyukainya. Hampir ketika aku bertemu dengan teman sekampus denganku menanyakan seorang warga negara Indonesia yang bernama Wais. Aku pun terpaksa segera mengangguk dengan mengatakan bahwa aku kenal sekali dengan Wais.

“Kamu kenal Wais? Temanmu yang bernama Wais itu sangat baik sekali. Aku suka dia.”
“Wais main bolanya mantap sekali. Eh, nanti malam ajak dia untuk ikut kami main bola ya.”
“Andi, ucapkan salam kepada Wais kalau ketemu yah.”

Dan tentunya masih banyak lagi pujian-pujian yang telah aku dengar dari teman-teman Turki sini.

Namun saat itu aku bukanlah aku yang sekarang.

Aku tidak begitu menyukai Wais seperti halnya teman-temanku yang menyukainya. Aku tidak percaya kepada siapapun. Semua orang selalu saja aku pandang dengan sinis, tidak hanya Wais. Sepertinya aku memiliki perasaan benci yang berlebih, terkhusus kepada Wais. Bahkan aku seperti akan marah jika ada yang memuji-muji Wais, atau kadang lalu aku berusaha mengalihkan pembicaraan ketika nama Wais mulai terdengar.

Sungguh betapa bodohnya aku ketika mengingat saat-saat itu. Andi yang sangat bodoh!

--=o0o=--

Hujan turun dengan sangat deras, sebagaimana mataku yang kini menangis tanpa henti.

Aku harus pergi ke sebuah rumah sakit yang berjarak satu jam dari sini. Aku tidak mempunyai payung, kalau ada pun mungkin aku tidak akan sempat atau lupa untuk mengambilnya dari rumah. Di tengah malam seperti ini tidak ada lagi kendaraan yang berkeliaran. Ada, tapi sangat jarang. Aku pun berlari di dalam hujan. Sendiri.

--=o0o=--

Waktu itu aku sakit parah. Kakiku terluka dan patah tulang karena bermain bola. Aku terpaksa berdiam berbulan-bulan di rumah tanpa pergi kemanapun.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Silahkan masuk Wais,” ucap teman serumahku yang membukakan pintu.
“Apa kabar Andi sekarang?”
“Alhamdulillah, lumayan, tapi masih belum bisa berjalan kemana-mana.”

Aku mendengar pembicaraan mereka di balik pintu kamarku. Aku heran, kenapa Wais begitu perhatian denganku. Padahal aku tidak pernah memberinya perhatian layaknya dia kepadaku. Bahkan sampai hari ini aku tidak pernah sama sekali pergi ke rumahnya. Entah rumahnya ada di daerah mana, jalan mana, dekat atau jauh dari kampus, aku tak pernah menanyakan semua hal itu, apalagi untuk datang.

“Apa kabar Andi?” tanya dia untuk yang kesekian-puluh kali lebih kepadaku. Kunjungannya ini pun bukan yang pertama. Hampir dua tiga hari sekali dia datang.
“Baik,” ucapku dengan masih sinis tanpa menunjukkan wajah senang.

Entah apa yang menjadikanku begitu acuh kepada Wais saat itu. Aku hanya teringat dengan kata orang tuaku sebelum pergi ke Turki, jangan mudah percaya dengan orang lain. İya, kata-kata itulah yang telah menjadi semboyan kehidupanku. Tidak pernah mempercayai siapapun melebihi sepuluh persen saja. Bahkan aku pernah berkata dalam hatiku, “Apa yang Wais inginkan dariku. Aku tidak ingin berhutang budi pada siapapun. Aku tidak percaya kepada siapapun.”

Hujan semakin deras. Aku pun berlari lebih kencang tanpa menoleh ke arah belakang.

--=o0o=--

Pernah juga dia datang ke rumahku dengan membawakanku sebuah buku. Dia berharap agar aku juga menjadi seorang muslim yang baik. Dia ingin aku sholat sebagaimana muslim yang taat.
“Apa ini Wais?”
“Buku. Nanti dibaca ya kalau ada waktu.”
“Aku tidak suka baca. Kau simpan saja buku itu.”
“Tidak apa-apa, mulai saja membaca dengan perlahan. Nanti juga terbiasa kok.”
“Tapi aku tidak janji.”
“Ok, tidak apa. İtu buku bagus sekali, karya seorang ulama dari Turki.”
“Owwh..” ucapku mendiamkannya.

Lagi-lagi aku berfikiran negatif. Aku teringat bahwa aku adalah anak seorang konglomerat. Aku kuliah dengan biaya sendiri disini tanpa beasiswa. Bahkan uang sakuku lebih banyak dari uang mereka yang mendapatkan beasiswa.

Aku mendengar sebuah suara dari dalam diriku, “Ada sesuatu di balik semua kebaikan yang ditujukkan oleh Wais.”

Aku melihat jam tanganku. Ternyata sudah mati dan tidak berfungsi. Seingatku tadi aku berangkat dari sebuah kafe dengan berlari pada pukul 01.30. Aku kelelahan, harusnya aku sudah semakin dekat dengan rumah sakit. Aku melihat sekeliling dan belum menemukan tempat bertuliskan “Hastane”, artinya rumah sakit.

--=o0o=--
 
Rintikan hujan menghujam wajahku. Aku tak peduli. Aku hanya berharap bisa segera menjumpai Wais, mungkin untuk yang terakhir kali.

Aku ingat, saat dia datang ke rumahku selalu saja tanpa tangan kosong. Dia begitu ringan tangan dan murah hati. Memberi adalah tugasnya. Mungkin dia tidak pernah terpikir untuk meminta.
“Andi, aku ke rumahmu ya.”
“Mau ngapain?”
“Kita masak, aku punya bumbu nasi goreng dari Indonesia.”
“Yaudah, kesini aja.”

Bahkan aku tidak ingat pernah memberinya apa, atau bahkan aku pun lupa untuk memberikannya sesuatu meski itu senyum, barang sekali.

Aku menangis. Aku terisak lebih keras di tengah hujan yang deras.

--=o0o=--

“Aku mau melihat temanku pak!” ucap Andi memaksa beberapa perawat yang baru keluar dari ruang gawat darurat.
“Tidak bisa! Pasien sedang ditangani dokter. Anda harus menunggu di luar dahulu.”
“Tapi aku takut tidak sempat melihat wajahnya untuk yang terakhir kali suster. Luften!”
“Hayir! Tidak bisa!”

Aku terus menangis dann tersungkur di depan pintu ruang operasi gawat darurat. Aku duduk dan merangkul kedua kakiku. Aku pasrah dan menyesal dalam hati. “Apakah kau akan memaafkanku Wais?”tanyaku dalam isakku.

Satu jam yang lalu aku sedang bermain-main dengan teman-teman Turki di sebuah kafe. Aku tertawa dan bersenang-senang dengan mereka. Hingga ada sebuah panggilan.

“Tuuuuuttttt.... Tuuuuuttttt.... !!!”
Ada suara getar dari telfon genggamku. Sebuah nomer asing.

“Apa saya sedang berbicara dengan tuan Andi?”
“Iya, aku sendiri.”
“Teman anda yang bernama Wais Al-Qarni kecelakaan. Sebuah truk besar menabraknya barusan. Segeralah datang ke rumah sakit.”

Aku terdiam beberapa menit. Teman-teman di sekitarku bertanya. Tapi aku tidak mendengar sedikitpun apa yang mereka ucap. Seketika aku berlari ke dalam hujan. Tak ada satu orang pun yang mengikutiku di belakang. Entah, mungkin aku lupa untuk menoleh.

“Tuan Andi!” ucap seorang dokter. Aku pun segera terbangun.
“Iyaaa sayaaa pakk...”
“Kami sudah berusaha semampu kami. Kami harap anda bisa tabah...” Entah apa lanjutan perkataan dokter itu. Aku lalu berlari pergi menerobos masuk ke ruang operasi. Beberapa menghalangiku namun aku akhirnya berhasil memasuki ruangan. Aku buka kain yang menutupi tubuhnya. Aku pejamkan mataku. Aku menangis, tersungkur bersama isakan tak tertahankan. Betapa bodohnya aku! Telah menyia-nyiakan seorang sahabat yang menghargaiku. Bahkan dia pergi dengan wajah yang tersenyum.

“Maafkan aku Wais!”
“Maafkan aku Wais!”
“Maafkan akuuu....”

Semua orang memandangiku, mereka tidak mungkin faham kata-kataku dengan bahasa ibu pertiwi. Lalu aku pingsan.

--=o0o=--

Aku membersihkan barang-barang Wais di rumahnya. Aku harus mengirimkan semua kepunyaan Wais, dan menyerahkan kepada keluarganya di tanah air. Mungkin ini adalah kesempatanku untuk memberikan kepadanya sesuatu dengan tulus dari hatiku.

Ada banyak buku yang tersusun rapi. Aku pun mengambilnya satu persatu. Lalu memasukkannya kedalam sebuah kotak yang telah kusediakan. Ada sebuah buku yang terbungkus rapi dengan kertas kado di antara deretan buku-buku itu.

Aku ambil buku itu. Aku kaget dan melihat ada tulisan tangan di atasnya, “Untuk saudaraku Andi Wahyudi.” Aku pun membukanya. Ada sebuah kertas terselip di antara halaman buku itu.

Salam saudaraku,

Maaf hanya ini kado pemberianku untukmu. Semoga kau senang dengan bingkisan kecil ini. Saudaraku, entah apakah umur akan selalu panjang. Kita tidak pernah tahu akan itu. Namun, aku tahu dan berharap kita menjadi seseorang yang menutup sebuah umur dengan kebaikan.

Saudaraku, maaf jika kau tak berkenan dengan ucapan “saudara”. Namun, di negri ini hanya kau yang kuanggap sebagai saudaraku. Aku seorang yatim piatu, tanpa ayah dan ibu. Aku tak bersaudara layaknya mereka yang bersaudara. Sudikah kau menjadi saudara?

Saudaraku, aku telah memaafkanmu, janganlah bersedih. Saudara macam apa yang tidak memaafkan saudaranya. Aku tidak pernah marah dengan kelakuan saudaraku kepadaku. Terlebih, saudaraku ini adalah seorang muslim. Tidakkah hubungan saudara semuslim lebih erat daripada saudara sekandung?

Saudaraku, jika nanti ada teman Indonesia yang lain datang, mari kita jadikan dia sebagai saudara kita. Karena dia memang saudara kita. Mari kita buat dia senang dan jangan biarkan dia sendiri kesepian di kota yang asing ini.

Saudaraku, semoga umurmu panjang dan berkah. Amin.

Saudaramu, Wais Al-Qarni

Aku merasa semakin bodoh. Bahkan dia tahu hari kelahiranku yang akan datang beberapa hari lagi. Bahkan lagi, dia tak lupa menyiapkan bingkisan.

“Maafkan kebodohan saudaramu ini Wais!!!!”

A4, Kahramanmaras, 19 April 2014

Komentar

  1. Endingnya bagus, saya suka dg surat wais. Menyentuh. kalo masukkannya mungkin penggunaan Andi dan Aku sebagai pelaku utama yg berganti2 jd sedikit membingungkan. so far I like it :)

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, terima kasih banyak Mas, sarannya membangunkan semangat! :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer